Sahabat (‘Adalah dan Fatwa Mereka)

Posted on Desember 1, 2012 in Ulumul Hadits by hafizhullah

‘ADÂLAH AL-SHAHÂBAH

A.    Pendahuluan

Kepemimpinan Islam pasca wafatnya Nabi SAW. berpindah tangan kepada sahabat. Dari mereka umumnya kita mengenal Rasulullah SAW., dan dari mereka pulalah kita mewarisi berbagai macam ilmu.

Sahabat sebagai tokoh yang berperan penting terhadap sumber rujukan dalam Islam, memiliki tempat yang strategis dalam kajian keislaman, hal ini menjadi wajar karena merekalah sampai detik ini kita masih bisa melihat bukti-bukti sejarah, lebih dari itu kita dapat memahami hadis yang memang berasal dari periwayatan mereka.

Adanya berbagai persepsi tentang keseluruhan sahabat adalah adil, nampaknya telah menjadikan sahabat sebagai bahan kajian yang sangat dominan dalam menentukan kapabilitas dan kualitas hadist. Berkaitan dengan hal tersebut, maka penulisan makalah ini ditujukan dalam rangka merespon berbagai persepsi tersebut untuk memperoleh gambaran utuh tentang sahabat. Mengingat bahwasannya al-Qur’an dan Hadist merupakan sumber utama dalam kajian keislaman, maka kajian tentang sahabat sebagai tokoh pemeran penyampai hadis menjadi sangat sentral dan bahkan penting.

Dalam penulisan makalah ini, pertanyaan mendasar yang hendak dijawab adalah siapa sebenarnya yang dimaksud sebagai sahabat Nabi SAW., dan bagaimana posisi mereka dalam studi hadis, dan apakah benar semua sahabat itu adil dan bagaimana dengan kehujjahan fatwa mereka.

B.     Pembahasan
1.      Pengertian Sahabat

Sebelum memulai pembahasan tentang keadilan para sahabat, maka terlebih dahulu pemakalah akan mengungkap makna dari sahabat tersebut. Hal ini sebagai langkah terarah agar didapatkan suatu kejelasan terhadap apa yang selama ini dipahami sebagai sahabat.

a.      Arti al-Sahâbah Secara Bahasa (Etimologi)

Secara etimologi Sahabat merupakan bentukan dari kata al-Suhbah (persahabatan), yang mengandung pengertian untuk seseorang yang menyertai orang lain, sedikit ataupun banyak, lama maupun sebentar. Demikian pula dikatakan bahwa seseorang bersahabat dengan yang lainnya sepanjang masa, tahun, bulan, hari dan jam. Sehingga penggunaan istilah sahabat dipakai untuk menyatakan aktivitas ini, baik terjadi dalam kurun waktu yang lama maupun sebentar.[1]

Dalam kamus bahasa, kata al-ashâb, al-shahâbah, shahaba, yashubu, shahâbatan, shâhibun, artinya; sahabat, teman bergaul dan duduk, penolong, dan pengikut. Al-Shâhib artinya kawan bergaul, pengkritik, teman atau orang yang melakukan dan menjaga sesuatu. Kata ini juga bisa diartikan sebagai orang yang mengikuti paham atau mazhab tertentu. Dalam prakteknya, misalnya kita bisa mengatakan; pengikut Syafi’i, pengikut Hanbali, dan lainnya. Dapat pula dikatakan seperti dalam isthahaba al-qaum, yang artinya: mereka saling bersahabat satu sama lain, atau isthahaba al-ba’ir: artinya, menyelamatkan unta.[2]

b.      Makna Sahabat Menurut Istilah Syara’ (Pandangan Ulama)

Ibn Hajar al-Asqalani dalam kitabnya menyatakan bahwa: “Sahabat adalah orang yang bertemu dengan Rasulullah SAW., beriman kepadanya dan meninggal dalam keadaan Islam”.[3] Dalam pandangannya ia menyatakan bahwa yang dapat dianggap sebagai sahabat adalah mereka yang memenuhi kriteria di bawah ini:

  1. Bertemu dengan Nabi SAW. dan menerima dakwahnya, dalam waktu lama atau sebentar.
  2. Meriwayatkan hadis dari Nabi SAW. ataupun tidak.
  3. Ikut berbaiat pada Nabi SAW. ataupun tidak.
  4. Sempat melihat Nabi SAW., sekalipun tidak pernah duduk menemani atau tidak pernah melihat Nabi karena sebab tertentu (seperti orang buta).[4]

Berdasarkan pada apa yang jelaskan oleh Ibn Hajar di atas, pada bagian kalimat “beriman kepada Nabi”, secara tidak langsung memunculkan persepsi yang dapat mengeluarkan orang tertentu sebagai sahabat, yakni mereka yang bertemu Nabi SAW. tetapi beriman kepada orang lain, seperti halnya golongan ahl al-kitab yang pernah bertemu dengan Nabi SAW. Begitupun bagi mereka yang bertemu Nabi SAW. sebelum kenabiannya (qabla al-bi’tsah) kemudian percaya akan adanya Nabi sebagai utusan, seperti pendeta Buhaira dan para pengikutnya.

Ibnu Hazm berpendapat bahwa Sahabat adalah: “Setiap orang yang pernah menyertai Rasulullah SAW. walaupun hanya sesaat, mendengar dari beliau walaupun hanya satu kata, menyaksikan beliau menangani suatu masalah, maka dalam hal ini tidak termasuk orang-orang munafik yang mati dalam kemunafikannya, orang-orang yang tidak mengakui kenabian beliau.”[5]

Adapun pendapat mayoritas ulama, sesuai dengan apa yang telah dipaparkan oleh Ibnu Hajar: “Yang paling shahih menurut saya adalah bahwa Sahabat merupakan orang yang pernah bertemu dengan Nabi SAW. dalam kedaan beriman kepada beliau dan meninggal dalam keadaan beriman pula. Maka termasuk dalam kategori orang yang pernah bertemu dengan Nabi SAW., orang yang lama berinteraksi atau hanya sebentar saja bersama beliau, orang yang meriwayatkan dari beliau atau tidak, orang yang ikut berperang atau tidak, orang yang melihat beliau satu kali dan tidak sempat duduk bersamanya, dan orang yang tidak melihat beliau karena alasan tertentu seperti buta”.[6]

Dari beberapa definisi di atas dapat diambil beberapa poin bahwa:

  1. Sahabat adalah orang yang bertemu dengan Nabi SAW. secara mutlak, baik itu bertemu sekali saja ataupun sering, baik itu lama atau sebentar.
  2. Seseorang yang bertemu dengan Nabi SAW. sebelum beliau diutus menjadi rasul tidak disebut sahabat. Akan tetapi disebut sahabat apabila bertemu dengan Nabi SAW. setelah beliau diutus menjadi Rasul.
  3. Seseorang yang sezaman dengan Nabi SAW. tetapi tidak bertemu dengannya maka tidak disebut sahabat tetapi mukhaddhram.[7]

2.      Tingkatan Sahabat

Muhammad ‘Ajaj al-Khatib menjelaskan bahwa para ulama berbeda pendapat dalam pembagian sahabat kepada beberapa tingkatan. Hal ini disebabkan sudut pandang yang berbeda, sebagian menjadikan awal masuk Islam sebagai ukuran utama, sebagian lain memakai hijrah sebagai tolak ukur, sebagian yang lain menggunakan peristiwa-peristiwa penting pada masa hidup Rasulullah SAW. sebagai tolak ukur. Oleh sebab itulah, Ibnu Sa’ad dan beberapa ulama lainnya membagi tingkatan sahabat kepada lima tingkatan, sedangkan an-Naisaburi membaginya kepada dua belas tingkatan.[8]

Al-Hakim menuturkan urutan thabaqah sahabat berdasarkan kepada awal masuk Islam kepada dua belas tingkatan berikut:[9]

1)      Para sahabat yang terhitung pertama masuk Islam seperti al-Khulâfâ’ al-Râsyidûn.

2)      Sahabat yang masuk Islam sebelum musyawarah penduduk Mekkah di Dâr al-Nadhwah.

3)      Sahabat yang ikut Hijrah ke Habsyah pada tahun kelima kenabian.

4)      Sahabat yang ikut dalam Bai’at Aqabah pertama.

5)      Sahabat yang ikut dalam Bai’at Aqabah kedua, mayoritas berasal dari kaum Anshar.

6)      Sahabat yang ikut berhijrah dan bertemu dengan Nabi SAW. di Quba sebelum sampai ke Madinah.

7)      Sahabat yang ikut dalam perang Badar.

8)      Sahabat yang ikut berhijrah antara perang Badar dan perjanjian Hudaibiyah.

9)      Sahabat yang ikut dalam Bai’at ar-Ridhwan di Hudaibiyah.

10)  Sahabat yang ikut berhijrah antara perjanjian Hudaibiyah dan Fath Makkah.

11)  Sahabat yang masuk Islam pada peristiwa Fath Makkah.

12)  Sahabat yang menyaksikan Rasulullah SAW. pada Fath Mekkah dan Haji Wada’.

Di samping itu, para ulama sepakat bahwa sahabat yang paling mulia dan tinggi derajatnya adalah Abu Bakar ra., kemudian Umar bin Khattab ra, [10] dan tidak ada seorangpun sahabat maupun tabi’in yang berbeda pendapat mengenai keutamaan mereka atas sahabat-sahabat yang lain, kemudian Utsman bin Affan ra., kemudian Ali bin Abi Thalib ra., kemudian sepuluh orang sahabat yang disebut Rasulullah SAW. akan masuk surga, pejuang perang Badar, Uhud, lalu peserta Bai’ah ar-Ridhwan dan kaum Anshar yang memiliki keistimewaan dengan yang pernah mengikuti dua ‘aqabah.[11]

3.      Cara Mengetahui Sahabat

Sahabat dapat diketahui dengan salah satu diantara beberapa indikasi berikut ini:

  1. Melalui khabar mutawatir, seperti Abu Bakar, Umar bin Khattab dan sahabat lainnya yang tersebut dalam hadis yang menyatakan mereka akan masuk syurga.
  2. Melalui khabar masyhur atau mustafid, seperti ‘Ukasyah bin Muhsan dan Dhammam bin Tsa’labah.
  3. Melalui riwayat seorang sahabat yang mengabarkan bahwa seseorang berstatus sahabat, seperti Hammamah bin Abi Hammamah ad-Dausi yang dinyatakan sebagai sahabat oleh Abu Musa al-As’ari.
  4. Melalui pengakuan orang itu sendiri bahwa dirinya adalah sahabat dan bisa dibuktikan keadilan dan kebersamaannya dengan Rasulullah SAW.
  5. Melalui berita dari seorang tabi’in. Hal ini didasarkan pada diterimanya tazkiyah dari satu orang.[12]

4.      Pandangan Ulama tentang ‘adâlat al-shahâbah (هل كل الصحابة عدول)

Mempersoalkan keadilan seluruh sahabat tentu bukan tanpa alasan, hal ini sangat mungkin terjadi bila kita mau secara jujur melihat setiap detil dalam berbagai aspek kehidupan mereka. Berikut pemakalah akan menyampaikan dua pandangan berbeda tentang keadilan seluruh sahabat.

1)      Keadilan Sahabat Menurut Ahlussunnah

Ahlussunnah bersepakat bahwa seluruh sahabat adalah orang yang adil, baik yang mengalami masa terjadinya fitnah maupun tidak. Ini merupakan pendapat mayoritas ulama.[13]

Menurut Ibn Hajar, tidak ada yang berselisih pendapat tentang hal ini kecuali segelintir orang (ahli bid’ah), maka wajib bagi muslimin untuk meyakini sikap sahabat tersebut karena telah ditetapkan bahwa seluruh sahabat adalah ahli surga, tidak seorangpun dari mereka yang akan masuk neraka.[14]

Dalam konteks ini yang dimaksud sahabat adalah setiap sahabat dalam pengertian yang telah disebutkan pada penjelasan definisi sebagaimana disebutkan Ibn Hajar di atas.

Pernyataan di atas didasarkan bahwa keadilan sahabat telah ditetapkan Allah SWT melalui penjelasan tentang kesuciannya, dan mereka adalah orang-orang pilihan Allah SWT. hal ini didasarkan pada dalil al-Qur’an berikut:

a)      Al-Baqarah: 143

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ

b)      Ali Imran: 110

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ

Demikian juga terdapat dalam berbagai surat lainnya, seperti: Al-Nisa’: 94, Al-Anfal: 64, Al-Taubah: 101, Al-Fath: 18, Al-Hasr: 8-10.

Rasulullah SAW juga telah menyatakan dalam hadisnya:

لَا تَسُبُّوا أَحَدًا مِنْ أَصْحَابِي فَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَوْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا أَدْرَكَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلَا نُصَيْفَهُ (رواه مسلم)

Disamping itu, Umar bin al-Khattab telah menegaskan keadilan seluruh sahabat, kecuali orang-orang yang dengan tegas melakukan apa yang dapat menodai sifat adilnya.[15]

Inilah dalil yang dijadikan landasan bagi golongan Ahlussunnah, sehingga ada pernyataan bahwa semua sahabat itu adil, yang dimaksud dengan adilnya sahabat ialah sebagaimana yang dimaksud dalam arti keadilan sahabat itu sendiri; yakni setiap orang yang sezaman dengan Nabi SAW., dilahirkan pada zaman Nabi SAW., tidak pernah berdusta atau menipu. Sebenarnya apa rahasia yang terdapat dibalik sikap Ahlussunah ini? Mereka berdalil: Rasulullah adalah haq, al-Qur’an adalah haq, apa yang dibawa oleh Nabi SAW. adalah haq, dan yang menyampaikan ajaran Nabi itu semua kepada kita adalah para sahabat. Maka, siapapun yang melemahkan sahabat, sebenarya mereka ingin melemahkan al-Qur’an dan al-Sunnah. Karena itulah mereka kafir.[16]

2)      Pandangan Syi’ah Tentang Keadilan Sahabat

Dalam hal kriteria tentang sahabat pada dasarnya golongan Syi’ah tidak jauh berbeda dengan golongan Ahlussunah, yakni setiap orang yang bertemu dengan Nabi SAW. dan beriman kepadanya serta meninggal dalam keadaan Islam. Akan tetapi dalam hal keadilan sahabat mereka sangat jauh berbeda pendapat dengan Ahlussunah. Dalam pandangan Syi’ah, sahabat tidak semuanya bisa dikatakan adil, mereka berpendapat bahwa keadilan dan orang yang adil adalah siapa saja yang dianggap adil oleh Allah SWT dan Nabinya.

Dari uraian tersebut, kalangan Syi’ah berpendapat bahwa hanya sahabat-sahabat yang jujur dan adil yang bisa diikuti jalannya. Adapun sahabat-sahabat lain, maka ukuran keadilannya adalah sejauh mana pemahaman mereka tentang agama dan perilakunya dalam menjalankan syari’at.[17]

Kalangan Syi’ah berpendapat bahwa pandangan Ahlussunnah yang menyatakan bahwa seluruh sahabat adalah adil telah dipengaruhi oleh kepentingan politik dan yang terjadi pada masa kekuasaan khalifah Umayyah. Atau, paling tidak, pandangan tersebut berada di bawah kendali mereka, sehingga dengan menggunakan sarana informasi yang mereka miliki, kaidah-kaidah dan pandangan mereka ini disebarkan dan diterima oleh generasi berikutnya dengan taqlid, atau dipengaruhi oleh motif dan niat lain. Selanjutnya mereka juga berkata, adapun pendapat yang diutarakan oleh sebagian ahli fiqh yang memperkuat pandangan bahwa sahabat adalah orang-orang yang adil adalah pendapat tanpa dasar nash syar’i”.[18]

Namun demikian ada juga pendapat Syi’ah yang menyatakan bahwa sahabat yang adil adalah mereka yang ikut berjuang bersama Ali ra. serta mengakui kewaliannya. Pendapat ini mereka sandarkan pada alasan bahwa Ali ra. adalah orang pertama yang masuk Islam, Ia juga wali Allah SWT, saudara Nabi SAW. dan berada dalam asuhannya sejak masih kecil, ayah dari cucu Nabi, suami perempuan suci, panglima perang melawan kemusyrikan, panglima pasukan muslim, pembunuh musuh Islam, orang yang paling jujur dan mampu membedakan yang baik dan buruk, putra Abu Thalib (paman dan pelindung Nabi SAW.).

5.      Kehujjahan Fatwa Shahabat (Hujiiyah Qaul al-Shahâbi)

  1. a.      Definisi Qaul Al-Shahâbi


Terdapat beberapa definisi mengenai qaul al-shahâbi ini, di antaranya:

  1. Perkataan seorang sahabat yang tersebar pada sahabat-sahabat yang lainnya tanpa diketahui ada sahabat lain yang menentangnya.[19]
  2. Fatwa seorang sahabat atau madzhab fiqihnya dalam permasalahan ijtihadiyah.[20]
  3. Dr. Musthafa Daib Al-Bugha, mengistilahkan qaul al-shahâbi dengan madzhab shahâbi, yaitu segala hal yang sampai kepada kita dari salah seorang sahabat Rasul berupa fatwanya atau ketetapannya dalam permasalahan yang berkaitan dengan syari’at, yang tidak terdapat dalam nash Al-Qur’an dan As-Sunnah dan belum ada ijma’ dalam permasalahan tersebut.[21]

Dari beberapa definisi qaul al-shahâbi di atas, pemakalah menyimpulkan bahwa qaul al-shahâbi adalah hal-hal yang sampai kepada kita dari sahabat baik itu berupa fatwa atau ketetapannya, perkataan dan perbuatannya dalam sebuah permasalahan yang menjadi objek ijtihad yang belum ada nash yang sharih baik dari Al-Qur’an atau As-Sunnah yang menjelaskan hukum permasalahan tersebut.

b.      Macam-Macam Qaul Al-Shahâbi

Para ulama membagi qaul al-shahâbi ke dalam beberapa macam, seperti Dr. Abdul Karim Zaedan yang membaginya ke dalam beberapa kategori:[22]

  1. Perkataan sahabat terhadap hal-hal yang tidak termasuk objek ijtihad. Dalam hal ini para ulama semuanya sepakat bahwa perkataan sahabat bisa dijadikan hujjah. Karena kemungkinan sima’ dari Nabi SAW. sangat besar. Sehingga perkataan sahabat dalam hal ini bisa termasuk dalam kategori As-Sunnah, meskipun perkataan ini adalah hadis mauquf. [23] Pendapat ini dikuatkan oleh Imam As-Sarkhasi dan beliau memberikan contoh perkataan sahabat dalam hal-hal yang tidak bisa dijadikan objek ijtihad, seperti, perkataan Ali bahwa jumlah mahar yang terkecil adalah sepuluh dirham, perkataan Anas bahwa paling sedikit haid seorang wanita adalah tiga hari sedangkan paling banyak adalah sepuluh hari.

Namun contoh-contoh tersebut ditolak oleh beberapa ulama Al-Syafi’iyah, bahwa hal-hal tersebut adalah permasalahan-permaslahan yang bisa dijadikan objek ijtihad. Dan pada kenyataannya baik jumlah mahar dan haid wanita berbeda-beda dikembalikan kepada kebiasaan masing-masing.

  1. Perkataan sahabat yang disepakati oleh sahabat yang lain. Dalam hal ini perkataan sahabat adalah hujjah karena masuk dalam kategori ijma’.
  2. Perkataan sahabat yang tersebar di antara para sahabat yang lainnya dan tidak diketahui ada sahabat yang mengingkarinya atau menolaknya. Dalam hal inipun bisa dijadikan hujjah, karena ini merupakan ijma’ sukuti, bagi mereka yang berpandapat bahwa ijma’ sukuti bisa dijadikan hujjah.
  3. Perkataan sahabat yang berasal dari pendapatnya atau ijtihadnya sendiri. Qaul al-shahâbi yang seperti inilah yang menjadi perselisihan di antara para ulama mengenai keabsahannya sebagai hujjah dalam fiqh Islam. Dr. Muhammad Sulaiman Abdullah Al-Asyqar menambahkan tentang adanya perkataan yang berasal dari ijtihad seorang sahabat yang tidak diketahui tersebarnya pendapat tersebut di antara para sahabat lainnya, juga tidak diketahui pula ada sahabat lain yang menentangnya, dan perkataan tersebut tidak bertentangan dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Pada perkataan sahabat seperti ini para ulama berbeda pendapat mengenai statusnya.[24]

Adapun Dr. Muhammad Sulaiman Abdullah Al-Asyqar menambahkan beberapa poin mengenai macam-macam qaul al-shahâbi ini,[25] di antaranya:

  1. Perkataan Khulafa Ar-Rasyidin dalam sebuah permasalahan. Dalam hal ini para ulama sepakat untuk menjadikannya hujjah.
  2. Perkataan seorang sahabat yang berlandaskan pemikirannya dan ditentang oleh sahabat yang lainnya. Dalam hal ini sebagian ulama berpendapat bahwa perkataan sahabat ini tidak bisa dijadikan hujjah. Akan tetapi sebagian ulama lainnya dari kalangan Ushuliyyin dan Fuqaha mengharuskan untuk mengambil perkataan salah satu sahabat tersebut.

c.       Beberapa Macam Qaul Al-Shahâbi yang Menjadi Perselisihan Para Ulama

Setelah dijelaskan di atas bahwa perkataan sahabat memiliki beberapa macam variasi, semua ulama sepakat bahwa perkataan sahabat yang diperselisihkan keabsahannya sebagai hujjah adalah:

  1. Perkataan sahabat yang berasal dari pendapat dan ijtihadnya sendiri.
  2. Perkataan sahabat terhadap permasalahan yang bisa dijadikan objek ijtihad.
  3. Perkataan sahabat yang tidak tersebar di antara para sahabat yang lainnya dan tidak ada sahabat yang mengingkari pendapat tersebut.

Adapun perkataan sahabat selain dari keadaan yang sudah disebutkan di atas dapat dijadikan hujjah dalam pengambilan hukum Islam.

d. Keabsahan Qaul Al-shahâbi Sebagai salah satu dari Masdar Tasyri’

Ketika terjadi perbedaan pendapat mengenai keabsahan qaul al-shahâbi sebagai salah satu dari masdar tasyri’ dalam Islam, maka kita bisa langsung memahami bahwa qaul al-shahâbi yang dimaksudkan di sini adalah qaul al-shahâbi yang masih diperselisihkan mengenai kehujjiahannya dan bukan yang lainnya. Dengan kata lain tidak semua qaul al-shahâbi diperselisihkan keabsahannya sebagai hujjah.

Secara garis besar, terjadi beberapa pendapat mengenai hal ini,[26] yaitu:

  1. Ulama yang berpendapat bahwa qaul al-shahâbi dapat dijadikan hujjah secara mutlak dan didahulukan dari pada qiyas. Di antaranya Imam Malik dan Imam Ahmad dalam satu riwayatnya.

Adapun dalil yang mereka pegang sehingga berpendapat bahwa qaul al-shahâbi adalah hujjah secara mutlak yaitu:

1. Al-Qur’an

1)      “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik”. (Ali Imran:110)

2)      “Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar”. (Al-Taubah:100)

Firman Allah SWT yang menerangkan kelebihan para sahabat secara umum, di antaranya:

1)      Surat Yasin ayat 21:

اتّبِعُوْا مَنْ لَا يَسْأَلُكُمْ أَجْرًا وَهُمْ مُهْتَدُوْنَ

2)      Surat Luqman ayat 15:

وَاتَّبِعْ سَبِيْلَ مَنْ أَنَابَ إَلَيَّ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُمْ بَمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ

 2. As-Sunnah

1)      Rasulullah SAW. bersabda:

عَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ مِنْ بَعْدِي (رواه الترمذي)

2)      Rasulullah SAW. bersabda:

اقْتَدُوا بِاللَّذَيْنِ مِنْ بَعْدِى أَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ (رواه الترمذي)

3)      Rasulullah SAW. bersabda:

خير القرون قرني ثم الذين يلونهم ثم الذين يلونهم (رواه مسلم)

3. Ijma’

Ketika kita membaca sejarah al-Khulafâu al-Rasyidun, kita akan menemukan beberapa sumber sejarah yang menggambarkan ketika Abdurrahman bin ‘Auf menjadi ketua panitia pemilihan khalifah setelah Umar, dia pertama kali menawarkan kepada Ali untuk menjadi khalifah dengan syarat mengikuti sunah kedua khalifah sebelumnya. Tapi Ali menolak. Kemudian ia menawarkan pada Utsman dengan syarat yang sama, Utsman pun menerimanya. Pada saat itu tidak ada seorang sahabatpun yang mengingkari syarat yang diajukan Abdurrahman bin’Auf itu sehingga sampai pada derajat ijma’.

4. Dalil Akal

1)      Kemungkinan sima’ dan tauqif [27] dalam perkataan sahabat sangat kuat. Dan secara kebiasaan tidak mungkin para sahabat berfatwa kecuali berdasarkan kepada riwayat yang didengarnya. Dan tidaklah para sahabat berfatwa berdasarkan pendapatnya kecuali dalam keadaan darurat.

2)      Bahwa perkataan sahabat meskipun bersumber dari akal atau ijtihad, maka ijtihadnya lebih kuat dari yang lainnya. Karena para sahabat menyaksikan langsung turunnya Al-Qur’an, dan mengetahui metode-metode Rasulullah SAW. dalam menyampaikan dan menjelaskan berbagai hukum dalam suatu permasalahan.

3)      Bahwa qaul al-shahâbi bisa dipandang ijma’ juga, karena apabila terjadi perbedaan atau perselisihan pendapat dari kalangan sahabat yang lainnya pasti akan tampak dan diketahui.

  1. Ulama yang menolak qaul al-shahâbi sebagai sebuah hujjah, di antaranya Imam Al-Ghazali, jumhur Al-Asya’irah, Mu’tazilah dan sebagainya.

Adapun dalil yang mereka pakai adalah:

  1. Al-Qur’an:

1)      Firman Allah SWT, “Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, hai orang-orang yang mempunyai pandangan”. (QS. Al-Hasyar: 2)

Allah SWT memerintahkan hambanya untuk mengambil pelajaran dan itu adalah ijtihad. Dan ijtihad sangat berbeda dengan taklid, karena ijtihad usaha untuk mencari dalil dalam sebuah permasalahan adapun taklid mengambil pendapat yang lain tanpa ada dalil. Maka mengambil qaul al-shahâbi termasuk dalam kategori taklid.

2)      Fiman Allah SWT,” Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (As-Sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu adalah lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya”. (QS. Al-Nisa’: 59)

  1. Bahwa para sahabat ketika berfatwa terhadap suatu permasalahan berarti ia telah berijtihad. Dan kemungkinan ia salah dalam ijtihadnya tetap ada, karena para sahabat bukanlah orang-orang yang maksum dari kesalahan. Oleh karenanya tidak boleh mengikuti madzhab para sahabat secara taklid.
  2. Apabila qaul al-shahâbi bisa dijadikan hujjah karena keadaan para sahabat yang lebih mengetahui dan lebih utama dari yang lainnya, maka perkataan seseorang yang lebih paham dan mengetahui terhadap suatu permasalahan selain dari para sahabat dapat pula dijadikan hujjah.
  3. Para sahabat telah bersepakat bahwa ijtihad yang mereka lakukan boleh untuk ditentang apabila tidak sesuai. Sebagaimana Abu Bakar dan Umar tidak menyalahkan orang yang menolak ijtihad mereka. Akan tetapi mewajibkan kepada semua mujtahid untuk berijtihad pada permasalahan yang termasuk objek ijtihad.
  4. Qaul al-shahâbi adalah hujjah apabila bertentangan dengan qiyas. Maksudnya qaul al-shahâbi didahulukan dari pada qiyas jika keduanya bertentangan.

Adapun dalil mereka yang berpendapat bahwa qaul al-shahâbi bisa dijadikan hujjah apabila bertentangan dengan qiyas adalah: Bahwa perkataan atau fatwa seorang sahabat terhadap suatu permasalahan ada dua kemungkinan, kemungkinan pertama bahwa perkataannya tidak bersandarkan pada dalil dan yang kedua bersandarkan pada dalil.

Kemungkinan yang pertama adalah batil, karena tidak mungkin seorang sahabat berkata berlandaskan hawa nafsunya sendiri dan tidak mungkin mereka berdusta atau mengada-ada dalam berfatwa. Maka pasti perkataan sahabat itu berlandaskan pada dalil, meskipun mereka tidak secara sharih menjelaskan dalil tersebut.

Oleh karenanya qaul al-shahâbi didahulukan daripada qiyas, karena qaul al-shahâbi berlandaskan langsung kepada dalil (nash/hujjah ashliyah)), sedangkan qiyas meskipun berlandaskan dalil juga namun qiyas berlandaskan kepada ‘illah yang menjadi titik persamaan dengan al-ashl, sehingga qiyas disebut sebagai hujjah muttabi’ah dan bukan hujjah ashliyyah.

  1. Pendapat Imam As-Syafi’i terhadap hujjiyah qaul al-shahâbi.[28] Imam As-Syafi’i memaparkan tentang kehujjahan qaul al-shahâbi secara tafshili. Maksudnya ia tidak menghukumi (menerima/menolak) hujjiyah qaul al-shahâbi secara mutlak:

1)      Imam As-Syafi’i menjadikan qaul al-shahâbi hujjah apabila para sahabat bersepakat terhadap suatu permasalahan yang tidak ada dalil dalam Al-Qur’an atau As-Sunnah, dan tidak ada sahabat yang menolak pendapat tersebut. Dalam hal ini qaul al-shahâbi didahulukan dari pada qiyas, karena termasuk dalam kategori ijma’.

Contohnya, wajibnya menyembelih satu ekor domba bagi mereka yang berburu merpati dalam keadaan ihram. Hal ini mengikuti pekerjaan para sahabat yang menyembelih domba bagi siapa yang berburu dalam keadaan ihram.

2)      Apabila terjadi perbedaan pendapat di antara para sahabat terhadap suatu permasalahan maka diambil pendapat yang lebih dekat dengan Al-Qur’an, As-Sunnah, ijma’ atau qiyas, atau pendapat yang didukung oleh dalil yang lain. Sebagai contoh, Imam As-Syafi’i mengambil qaul al-shahâbi dalam menentukan kapan terakhir talbiyah dikumandangkan saat umrah. Atau perkataan Umar dalam khiyar ‘aib dalam pernikahan atau perkataan Ali bin Abi Thalib dalam hukum wanita yang ditinggal suami yang hilang.

3)      Apabila qaul al-shahâbi tersebut munfarid (tidak ada yang menyepakati juga tidak ada yang menyalahi), jika keadaannya demikian Imam As-Syafi’i mendahulukan qiyas daripada qaul al-shahâbi tersebut. Namun qaul al-shahâbi seperti itu jarang terdapat, karena biasanya qaul al-shahâbi terkenal dengan ijma’nya atau ikhtilafnya.

4)      Menjadikan qaul al-shahâbi sebagai penjelas dalam memahami Al-Qur’an dan As-Sunnah. Dan ini yang paling banyak kita dapatkan dalam pendapat-pendapat Imam As-Syafi’i mengenai qaul al-shahâbi. Seperi penjelasan sahabat tentang maksud al-jaza’ dalam ayat as-shaid (Al-Maidah: 95), kewajiban zakat pada harta anak kecil dan orang gila, dan lain sebagainya.

C.    Penutup

  1. Kesimpulan

Dari pemaparan diatas, dapat diambil beberapa kesimpulan penting yang terbagi kepada beberapa poin:

Dari beberapa definisi tentang sahabat, dapat diambil beberapa poin bahwa:

  1. Sahabat adalah orang yang bertemu dengan Nabi SAW. secara mutlak, baik itu bertemu sekali saja ataupun sering, baik itu lama atau sebentar.
  2. Seseorang yang bertemu dengan Nabi SAW. sebelum beliau diutus menjadi rasul tidak disebut sahabat. Akan tetapi disebut sahabat apabila bertemu dengan Nabi SAW. setelah beliau diutus menjadi Rasul.
  3. Seseorang yang sezaman dengan Nabi SAW., tetapi tidak bertemu dengannya maka tidak disebut sahabat tetapi mukhadhram
  4. Ahlussunnah bersepakat bahwa seluruh sahabat adalah orang yang adil, baik yang mengalami masa terjadinya fitnah maupun tidak. Ini merupakan pendapat mayoritas ulama.
  5. Bahwa tidak semua Qaul as-shahabi yang diperselisihkan keabsahannya sebagai hujjah di antara para ulama. Tetapi qaul as-shahabi yang diperselisihkan adalah berupa perkataan sahabat tentang suatu permasalahn ijtihadiyah yang tidak tersebar di kalangan para sahabat yang lainnya dan tidak ada nash sharih yang menjelaskan permasalahan tersebut.
  6. Apabila terdapat nash sharih yang menjelaskan hukum tentang suatu permasalahan maka qaul as-shahabi yang ada tentang permasalahan tersebut berfungsi sebagai penjelas dan penafsir bagi nash tersebut.
  7. Secara garis besar para ulama terbagi ke dalam dua pendapat mengenai keabsahan qaul as-shahabi sebagai salah satu masdar tasyri’, yaitu:

a. Yang menjadikannya sebagai hujjah

b.Yang menolaknya sebagai hujjah

 

  1. Kritik dan Saran

Alhamdulillah tiada harapan dan upaya sedikitpun dari kami kecuali makalah ini dapat bermanfa’at bagi segenap pembaca, dan dapat menambah sedikit banyak mengenai studi Islam.

Di balik itu semua maka dengan segala kemampuan yang pemakalah miliki tentunya masih banyak kekurangan dan kesalahan dalam makalah ini. Sudilah kiranya memberi teguran dan pembenaran kontruktif bagi pemakalah, terutama dari teman-teman mahasiswa dan bapak dosen pengampu khususnya, dan sebelumnya pemakalah ucapkan banyak terima kasih.

DAFTAR KEPUSTAKAAN

 

Al-Asqalani, Ibn Hajar, Al-Ishâbah fi Tamyîz al-Shahâbah, Beirut: Dâr al-Fikr, 1985

Al-Asyqar, Muhammad Sulaiman Abdullah, Al-Wâdhih Fi Ushûl al-Fiqh, Yordania: Dâr Al-Nafais, 2001

Al-Baghdadi, Al-Khatib, Al-Kifâyah fi ‘Ilmi al-Riwâyah, Beirut: Al-Hind, 1357 H

Al-Bugha, Musthafa Daib, Atsar al-Adillah Al-Mukhtalaf Fiha, Damaskus: Dâr Al-Imam al-Bukhâri, tt.

Hazm, Ibnu, Al-Ihkâm fi Ushûl al-Ahkâm, Beirut: Dâr al-Afâq al-Jadidah, tt.

Jum’ah, Ali, Qaul As-Shahâbi ‘Inda Ushûliyyîn, Beirut: Dâr Al-Risâlah, 2004

Al-Khatib, Muhammad ‘Ajaj, Ushûl al-Hadis (‘Ulûmuh wa Mushthâlahuh), Beirut: Dâr al-Fikri, 1989

Mukram, Abu al-Fadl al-Din Muhammad Ibn, Lisân al-Arab, Beirut: Dâr al-Shadir, 1986

Al-Naisaburi, Al Hakim, Ma’rifah ‘Ulûm al-Hadis, Mesir: Dâr al-Kutub al-Masriyah, 1937

Sanu, Quthb Musthafa, Mu’jam Musthâlahat Usûl al-Fiqh, Beirut: Dâr Al-Fikri, 2000

Al-Suyuthi, Jalaluddin, Tadrib al-Râwi, Mesir: Maktabah al-Qahirah, 1909

Ya’kub, Ahmad Husein, Nadzariyyah ‘Adalah al-Shahâbah, Iran: Muassasah Anshariyan, 1413 H

Zaedan, Abdul Karim, Al-Wâjiz Fi Ushûl al-Fiqh, Baghdad: Muassasah Qurthubah, 1976


[1] Muhammad ‘Ajaj al-Khatib, Ushûl al-Hadis (‘Ulûmuh wa Mushthâlahuh), (Beirut: Dar al-Fikri, 1989), hal. 385

[2] Abu al-Fadl al-Din Muhammad Ibn Mukram, Lisan al-Arab, (Beirut: Dâr al-Shadir, 1986), hal. 915

[3] Ibn Hajar al-Asqalani, Al-Ishâbah fi Tamyîz al-Shahabah, (Beirut: Dâr al-Fikr, 1985), hal. 101

[4] Ibn Hajar al-Asqalani, ibid. hal. 102

[5] Ibnu Hazm, Al-Ihkâm fi Ushûl al-Ahkâm, (Beirut: Dâr al-Afâq al-Jadidah, tt), jilid 5, hal. 89

[6] Ibn Hajar al-Asqalani, op.cit., Juz 1, hal.4

[7] Muhammad ‘Ajaj al-Khatib, op.cit., hal. 411

[8] Muhammad ‘Ajaj al-Khatib, ibid., hal. 390

[9] Al Hakim al-Naisaburi, Ma’rifatu ‘Ulûm al-Hadis, (Mesir: Dâr al-Kutub al_Masriyah, 1937), hal. 22

[10] Muhammad ‘Ajaj al-Khatib, op.cit., hal. 390

[11] Muhammad ‘Ajaj al-Khatib, ibid., hal. 390

[12] Jalaluddin al-Suyuthi, Tadrib al-Rawi, (Mesir: Maktabah al-Qahirah, 1909), hal. 400

[13] Al-Khatib al-Baghdadi, Al-Kifâyah fi ‘Ilmi al-Riwâyah, (Beirut: Al-Hind, 1357 H), hal. 46

[14] Ibn Hajar al-Asqalani, op.cit. .hal. 9-10

[15] Al-Khatib al-Baghdadi, op.cit., hal. 78

[16] Ibn Hajar al-Asqalani, ibid. .hal. 20

[17] Ahmad Husein Ya’kub, Nadzariyyah ‘Adalah al-Shahâbah, (Iran: Muassasah Anshariyan, 1413 H) hal. 69-71

[18] Ibid., hal. 71

[19] Quthb Musthafa Sanu, Mu’jam Musthâlahat Usûl al-Fiqh, (Beirut: Dâr Al-Fikri, 2000), hal. 343

[20] Ali Jum’ah, Qaul As-Shahabi ‘Inda Ushuliyyin, (Beirut: Dar-Ar-Risalah, 2004), hal. 40

[21] Musthafa Daib Al-Bugha, Atsar al-Adillah Al-Mukhtalaf Fiha, (Damaskus: Dâr Al-Imam al-Bukhâri, tt.), hal. 339

[22] Abdul Karim Zaedan, Al-Wâjiz Fi Ushûl al-Fiqh, (Baghdad: Muassasah Qurthubah, 1976), hal. 260-261

[23] Apa-apa yang bersumber dari sahabat baik itu perkataan, perbuatan dan persetujuannya.

[24] Muhammad Sulaiman Abdullah Al-Asyqar, Al-Wâdhih Fi Ushûl al-Fiqh, (Yordania: Dâr Al-Nafais, 2001), hal. 134-135

[25] Ibid.

[26] Musthafa Daib Al-Bugha, op.cit., hal. 343-344

[27] Hal-hal yang sudah ditetapkan oleh Allah swt dan RasulNya.

[28] Ali Jum’ah, Qaul As-Shahâbi ‘Inda Ushûliyyîn, (Beirut: Dâr-Ar-Risalah, 2004), hal. 110




Post a comment